Johann Hari: Dear God, stop brainwashing children

From Iaprojects

Original Article: English

Title: Johann Hari: Dear God, stop brainwashing children


Worship is forced on 99 per cent of children without even asking what they think.

Friday, 8 May 2009

Let us now put our hands together and pray. O God, we gather here today to ask you to free our schoolchildren from being forced to go through this charade every day. As you know, O Lord, because You see all, British law requires every schoolchild to participate in "an act of collective worship" every 24 hours. Irrespective of what the child thinks or believes, they are shepherded into a hall, silenced, and forced to pray - or pretend to.

If they refuse to bow their heads to You, they are punished. This happened to me, because I protested that there is no evidence whatsoever that You exist, and plenty of proof that shows the texts describing You are filled with falsehoods. When I pointed this out, I was told to stop being "blasphemous" and threatened with detention. "Shut up and pray," a teacher told me on one occasion. Are you proud, O Lord?

Forcing children to take part in religious worship every day is a law worthy of a theocracy, not a liberal democracy where 70 per cent of adults never attend a religious ceremony. That's why the Association of Teachers and Lecturers - one of the teachers' unions - has recently moved to ask the Government to stop forcing its members to take part in this practice.

Why does this anachronism persist in this blessedly irreligious country? For all their whining that they are "persecuted", the religious minority in Britain are in fact accorded remarkable privileges. They are given a bench-full of unelected positions in the legislature, protection from criticism in the law, and vast amounts of public money to indoctrinate children into their belief systems in every school in the land.

I can understand why the unelected, faltering religious institutions cling to this law so tightly. When it comes to "faith", if you don't get people young, you probably won't ever get them. Very few people are, as adults, persuaded of the idea that (say) a Messiah was born to a virgin and managed to bend the laws of physics, or that we should revere a man who at the age of 53 had sex with a nine-year-old girl. You can usually only persuade people of this when they are very young - a time when their critical and rational faculties have not yet been developed - and hope it becomes a rock in their psychological make-up they dare not pull out.

But why do the rest of us allow this fervent 5 per cent of the population to force the rest of our kids to follow their superstitions? Parents can withdraw their children if they choose - but that often means separating the child in an embarrassing way from her friends and exposing them to criticisms from the school, so only 1 per cent do it. Most don't even know it is an option.

More importantly still, why is worship forced on 99 per cent of children without their own consent or even asking what they think? As the author Richard Dawkins has pointed out many times, there are no "Christian children" or "Muslim children". I was classed as "Christian" because my mother is vaguely culturally Christian, although at every opportunity I protested that I didn't believe any of it. Children are not born with these beliefs, as they are born with a particular pigmentation or height or eye colour. Indeed, if you watch children being taught about religion, you will see most of them instinctively laugh and ask perfectly sensible sceptical questions that are swatted away - or punished - by religious instructors.

I am genuinely surprised that no moderate religious people have, to my knowledge, joined the campaign to stop this compelled prayer. What pleasure or pride can you possibly feel in knowing that children are compelled to worship your God? Why are you silent?

The prayer-enforcers offer a few arguments in their defence. At first, they claim it instils "moral values" in children. The scientist Gregory S Paul produced a detailed study in 2005 to find out if rates of murder and rape went up as levels of religion went down. He found the exact opposite. On detailed international comparisons, the more religious a country is, the more likely you are to be stabbed or raped there. There isn't necessarily a causal relationship - but it blasts a bloody hole in this claim.

Of course, if you actually followed the morality explicitly commanded by the Bible, Torah and Koran, you would kill adulterers, gay people, apostates, and disobedient children and be sent to prison. Thankfully, the vast majority of religious believers long since decided to disregard much of "God's word", because it is manifestly appalling, and read it metaphorically. But you have to strip away an awful lot of the texts as metaphor before you get to a few bland lessons about being nice to each other. Can't we get the lessons about niceness from somewhere else, without the bogus metaphysics and endless injunctions to kill our friends?

Once the morality defence dissolves, the religious switch tack, and claim that children indoctrinated into religion perform better academically. As "proof", they point to the fact that faith schools perform somewhat better on league tables. It's true - but look a little deeper.

There have been two detailed studies of this, by the conservative think tank Civitas, and the Welsh Assembly. They found faith schools get better results for one simple reason: they use selection to cream off highly motivated children of the wealthy and weed out difficult, poor or unmotivated students who would require more work. Once you take into account their "better" intakes, faith schools actually underperform academically by 5 per cent (and that's before you factor in all the other problems they cause).

I am absolutely not saying that schools should teach children to be atheists. No. Schools should take no position on religion. They should be neutral, and equip children with the thinking skills - asking for evidence, and knowing how to analyse it rationally - that will enable them to make up their own minds, when they wish, beyond the school gates. How can a religious person object to that, without admitting that open-minded, evidence-seeking adults would see through their claims in a second?

And so, O Lord, I ask you - and the British Government - to set our children free, at last, from being forced to worship You. Amen and hallelujah.

[email protected]

Terjemahan: Bahasa Indonesia

Judul: Johann Hari: Ya Tuhan, berhentilah mencuci otak anak-anak

Diterjemahkan dari:

Pemujaan dipaksakan terhadap 99 persen anak-anak bahkan tanpa menanyakan apa yang mereka pikirkan.

Jumat, 8 Mei 2009

Marilah sekarang kita mengatupkan tangan kita dan berdoa. Ya Tuhan, kami berkumpul disini hari ini untuk memintamu agar membebaskan anak-anak sekolah kami dari pemaksaan untuk ikut serta dalam permainan charade (permainan kata) ini setiap harinya. Seperti yang kau ketahui, ya Tuhan, karena kau lihat semua, hukum Negara Inggris mengharuskan setiap anak sekolah untuk berpartisipasi dalam "kegiatan doa kolektif" setiap 24 jam. Tidak menghormati apa yang dipikirkan atau dipercayai anak-anak itu, mereka digiring ke sebuah aula, disuruh diam, dan dipaksa untuk berdoa - atau berpura-pura berdoa.

Jika mereka menolak untuk menundukkan kepala kepadaMu, mereka akan dihukum. Ini terjadi padaku karena aku memprotes bahwa tidak ada bukti apapun atas keberadaanMu, dan banyak bukti nyata memperlihatkan tulisan-tulisan yang menggambarkan Kau penuh dengan kepalsuan. Ketika aku mengatakan ini, aku diberitahu untuk berhenti menjadi "penghujat" dan diancam dengan hukuman. "Diamlah dan berdoa," kata seorang guru kepada saya dalam sebuah kesempatan. Apakah engkau bangga, Tuhan?

Memaksa anak-anak untuk ambil bagian dalam pemujaan religius setiap hari adalah sebuah faedah hukum theokrasi, bukan hukum demokrasi liberal dimana 70 persen orang dewasa tidak pernah ikut serta dalam upacara religius. Itu sebabnya Association of Teachers and Lecturers (Asosiasi Guru dan Pengajar) - salah satu perserikatan guru-guru - baru-baru ini bergerak meminta Pemerintah agar berhenti memaksakan para anggotanya untuk mengambil bagian dalam pelaksanaan upacara religius ini.

Mengapa anakhronisme ini berlangsung lama di negara yang diberkati tak beragama ini? Walaupun merengek bahwa mereka "teraniaya", orang-orang religius yang minoritas di Inggris pada kenyataannya mendapatkan keuntungan-keuntungan yang luar biasa. Mereka diberikan kursi-penuh untuk posisi-posisi tanpa pemilihan dalam badan pembuat undang-undang, perlindungan terhadap kritik dalam hukum, dan sejumlah besar uang rakyat untuk mengindoktrinasi anak-anak kedalam sistem kepercayaan mereka di setiap sekolah di negara itu.

Saya dapat mengerti mengapa institusi-institusi religius yang goyah dan tidak terpilih, sangat berpegang teguh pada hukum ini. Berkenaan dengan "kepercayaan", jika anda tidak merangkul orang-orang saat usia mereka masih muda, kemungkinan anda tidak akan pernah dapat merangkul mereka. Hanya sedikit orang yang, sebagai orang dewasa, terayu dalam gagasan yang mengatakan bahwa Messiah (juru selamat) dilahirkan dari seorang perawan dan dapat membelokkan hukum fisika, atau bahwa kita harus mengidolakan seorang pria yang pada usia 53 tahun melakukan hubungan sex dengan bocah 9 tahun. Anda biasanya dapat meyakinkan hal ini kepada orang-orang saat mereka masih dalam usia sangat muda - masa dimana kemampuan berpikir kritis dan rasional mereka belum berkembang - dan berharap keyakinan tersebut akan menjadi batu dalam pembentukan psikologis mereka yang tidak berani mereka lenyapkan.

Tetapi mengapa kita membiarkan 5 persen populasi ini memaksakan anak-anak kita untuk mengikuti takhayul-takhayul mereka? Para orangtua dapat memilih untuk menarik anak mereka - tetapi itu seringkali berarti memisahkan si anak dari teman-temannya dengan cara yang memalukan dan mengekspos bahwa mereka mengecam sekolah, sehingga hanya 1 persen yang mekakukannya. Kebanyakan malah tidak mengetahui bahwa itu adalah sebuah pilihan.

Yang lebih penting lagi, mengapa pemujaan dipaksakan kepada 99 persen anak-anak tanpa persetujuan mereka sendiri atau bahkan menanyakan apa yang mereka pikirkan? Seperti yang telah dikatakan berulang kali oleh penulis Richard Dawkins, tidak ada yang disebut "Anak-anak Kristen" atau "Anak-anak Muslim". Saya digolongkan sebagai "Kristen" karena ibu saya samar-samar secara kultural adalah Kristen, walaupun dalam setiap kesempatan saya memprotes bahwa saya tidak memiliki kepercayaan sedikitpun. Anak-anak tidak dilahirkan dengan agama-agama ini, tidak seperti mereka dilahirkan dengan pigmentasi tertentu atau tinggi badan atau warna mata. Malahan, jika anda memperhatikan anak-anak yang sedang diajari agama, anda akan melihat sebagian besar dari mereka tertawa secara instingtif dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan skeptis yang masuk akal secara sempurna, yang ditepis jauh-jauh - atau dihukum - oleh para pengajar agama.

Saya sungguh-sungguh terkejut bahwa tidak ada orang religius moderat yang, sejauh pengetahuan saya, bergabung dalam kampanye untuk menghentikan pemaksaan doa ini. Kesenangan atau kebanggaan apa yang mungkin dapat anda rasakan dengan mengetahui bahwa anak-anak dipaksa untuk menyembahmu Tuhan? Mengapa engkau diam?

Para pemaksa ini menyodorkan beberapa sanggahan untuk pembelaan diri atas apa yang mereka lakukan. Pertamanya, mereka menyatakan pemujaan itu menanamkan "nilai moral" dalam diri anak-anak. Ilmuwan Gregory S Paul membuat penelitian mendetail di tahun 2005 untuk mencari tahu apakah tingkat pembunuhan dan pemerkosaan bertambah seiring dengan menurunnya tingkat keagamaan. Ia menemukan justru sebaliknya. Pada perbandingan terinci internasional, semakin religius suatu negara, semakin besar kemungkinan anda akan ditusuk atau diperkosa disana. Sebenarnya tidak ada hubungan sebab-akibat - tetapi ternyatanya tercipta lubang besar dalam pernyataan ini.

Tentu saja, jika anda benar-benar mengikuti secara eksplisit apa yang diperintahkan oleh Alkitab, Torah dan Koran, anda akan membunuh para penzinah, orang-orang gay, orang-orang murtad, dan anak-anak yang tidak patuh akan dikirim ke penjara. Untungnya, sebagian besar mayoritas penganut religi sudah sejak lama memutuskan untuk mengenyampingkan banyak "Kata-kata Tuhan", karena secara nyata itu mengerikan, dan dibaca secara metafora (kiasan). Namun anda harus menguliti sungguh banyak bacaan sebagai metafora sebelum anda dapat sampai pada beberapa pelajaran lemah lembut tentang bersikap baik satu sama lain. Tidak bisakah kita mendapatkan pelajaran tentang kebaikan dari tempat lain, tanpa metafisika gadungan dan persimpangan tak berujung untuk membunuh teman-teman kita?

Ketika pembelaan moralitas runtuh, para religius berganti arah, dan menyatakan bahwa anak-anak yang diindoktrinasikan kedalam agama menunjukkan prestasi yang lebih baik secara akademis. Sebagai "bukti" mereka mengacu pada fakta bahwa sekolah-sekolah agama entah bagaimana berprestasi lebih baik dalam tabel kompetisi. Itu benar - tetapi lihat lebih dalam lagi.

Sampai sekarang sudah ada dua penelitian mendetail tentang ini, oleh pemikir konservatif Civitas, dan oleh Welsh Assembly. Mereka menemukan sekolah-sekolah agama berprestasi lebih baik karena satu alasan sederhana: mereka menggunakan sistem seleksi untuk memilih anak-anak orang kaya yang bermotivasi tinggi dan menyingkirkan siswa-siswa bermasalah, miskin atau tidak bermotivasi yang akan menuntut lebih banyak kerja. Jika anda menghitung pendapatan mereka yang "lebih baik", sekolah-sekolah agama sebenarnya berprestasi jelek secara akademis dengan penurunan 5 persen (itupun sebelum anda memasukkan semua faktor masalah lain yang mereka sebabkan).

Saya sama sekali tidak mengatakan bahwa sekolah-sekolah seharusnya mengajari anak-anak untuk menjadi ateis. Tidak. Sekolah-sekolah seharusnya tidak mengambil posisi dalam agama. Mereka seharusnya menjadi netral, dan memperlengkapi anak-anak dengan kemampuan-kemampuan berpikir - meminta bukti, dan mengetahui bagaimana menganalisanya secara rasional - itu akan membuat mereka mampu memutuskan sendiri, ketika mereka inginkan, diluar gerbang sekolah. Bagaimana seorang yang religius keberatan atas hal itu, tanpa mengakui bahwa orang-orang dewasa yang berpikiran-terbuka pencari-bukti akan melihat jelas kelemahan pernyataan mereka dalam sedetik saja?

Jadi, Ya Tuhan, Aku memintamu - dan Pemerintahan Inggris - untuk membebaskan anak-anak kami, akhirnya, dari pemaksaan untuk menyembahMu. Amin dan Halleluya.

[email protected]

Catatan Tambahan (dari penerjemahan)

  • tulis keterangan tambahan di sini
Your Ad Here
Personal tools