Penciptaan menurut suku Maidu

From Iaprojects

Pada awalnya tidak ada matahari, tidak ada bulan, tidak ada bintang. Semua gelap, dan dimana-mana hanya ada air. Sebuah rakit mengapung di air. Ia datang dari utara, dan didalamnya ada dua orang –penyu dan Ayah-dari-masyarakat-rahasia.

Aliran mengalir sangat cepat. Lalu dari langit sebuah tapi dari bulu turun dan turunlah Pembuat-Bumi. Saat ia mencapai ujung tali, ia mengikatnya pada busur rakit dan naik. Wajahnya tertutup dan tidak pernah terlihat, namun tubuhnya bersinar seperti matahari. Ia duduk dan dalam waktu lama tidak berkata apa-apa.

Akhirnya sang penyu berkata,”Dari mana kamu datang?” dan pembuat bumi menjawab, “Saya datang dari atas”. Lalu penyu berkata, “Saudara, bisakan anda membuat tanah kering bagi saya sehingga saya dapat keluar dari air kapan-kapan?” Lalu ia bertanya lagi, “apakah akan ada manusia di dunia?” Pencipta bumi berpikir sebentar, lalu berkata “Ya.” Penyu bertanya, “Berapa lama sebelum anda akan membuat manusia?” Pencipta bumi membalas “Saya tidak tahu. Anda ingin memiliki daratan kering: bagaimana saya mendapatkan bahan untuk membuatnya?” Penyu menjawab,”Bila anda mau mengikat batu di tangan kiri saya, saya akan menyelam mengambilnya” Pembuat bumi melakukan itu, dan mengikatkan ujung tali dengan tangan kiri penyu. Saat pencipta bumi datang ke rakit, tidak ada lagi tali: ia mencoba menggapai ke dalam laut tapi tidak ketemu. Penyu berkata “Bila talinya tidak cukup panjang, saya akan menariknya dan engkau harus menarik saya naik; bila cukup panjang, saya beri dua sentakan, dan anda terus menarik saya dengan cepat, dan saya membawa tanah itu”. Saat penyu itu akan ke sisi perahu, bapak dari masyarakat rahasia mulai berteriak.

Penyu itu pergi lama. Telah enam tahun, dan saat ia naik, ia tertutup dengan lumut, ia telah turun terlalu lama. Ia mencapai atas air, satu-satunya tanah yang ia bawa adalah sedikit sekali di bawah kukunya: sisanya tersapu air. Pencipta bumi mengambil dengan tangan kanannya memakai pisau batu dari ketiak kirinya dan dengan hati-hati mengikis tanah dari kuku sang penyu.

Ia meletAkkan tanah di tapak tangannya, dan menggulungnya hingga bulat, sebesar guli. Ia meletakkannya di ujung rakit. Ia mengamatinya namun bola itu tidak membesar. Ketiga kalinya ia mengamatinya, ia tumbuh sebesar rentangan tangan. Keempat kalinya ia melihat, ia telah sebesar dunia, rakit itu telah ada di atasnya, dan semuanya pegunungan sejauh mata memandang.

Rakit itu mendarat di Ta’doiko, dan tempat itu dapat dilihat sekarang.

Personal tools
Other sites